<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Lia2009's Blog</title>
	<atom:link href="http://lia2009.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lia2009.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 12 Apr 2009 03:28:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='lia2009.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Lia2009's Blog</title>
		<link>http://lia2009.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://lia2009.wordpress.com/osd.xml" title="Lia2009&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://lia2009.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://lia2009.wordpress.com/2009/04/12/10/</link>
		<comments>http://lia2009.wordpress.com/2009/04/12/10/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2009 03:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lia2009</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lia2009.wordpress.com/2009/04/12/10/</guid>
		<description><![CDATA[&#60;!&#8211; @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } H1 { margin-bottom: 0.21cm } H1.western { font-family: &#8220;Times New Roman&#8221;, serif } H1.cjk { font-family: &#8220;Lucida Sans Unicode&#8221; } H1.ctl { font-family: &#8220;Tahoma&#8221; } H3 { margin-bottom: 0.21cm } H2 { margin-bottom: 0.21cm } TD P { margin-bottom: 0cm } A:link { so-language: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lia2009.wordpress.com&amp;blog=6755799&amp;post=10&amp;subd=lia2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&lt;!&#8211; 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 		H1 { margin-bottom: 0.21cm } 		H1.western { font-family: &#8220;Times New Roman&#8221;, serif } 		H1.cjk { font-family: &#8220;Lucida Sans Unicode&#8221; } 		H1.ctl { font-family: &#8220;Tahoma&#8221; } 		H3 { margin-bottom: 0.21cm } 		H2 { margin-bottom: 0.21cm } 		TD P { margin-bottom: 0cm } 		A:link { so-language: zxx } 	&#8211;&gt;</p>
<h1 class="western">Ilmu ekonomi</h1>
<div id="bodyContent" dir="ltr">
<h3><a name="siteSub"></a>Dari Wikipedia bahasa Indonesia, 	ensiklopedia bebas</h3>
<p style="margin-bottom:0;">
<p><strong>Ilmu ekonomi</strong> adalah ilmu yang<span id="more-10"></span> mempelajari perilaku manusia 	dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi 	adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia">manusia</a> yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya 	terbatas. Permasalahan itu kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan 	(Ingg: <em>scarcity</em>).</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:AdamSmith.jpg"><span style="color:#000080;"><img src="http://id.wikipedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png" border="1" alt="" width="15" height="11" align="bottom" /></span></a></p>
<p><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Adam_Smith">Adam Smith</a> diakui sebagai bapak dari ilmu ekonomi</p>
<p>Kata &#8220;ekonomi&#8221; sendiri berasal dari kata Yunani οἶκος 	(<em>oikos</em>) yang berarti &#8220;keluarga, rumah tangga&#8221; dan 	νόμος (<em>nomos</em>), atau &#8220;peraturan, aturan, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum">hukum</a>,&#8221; 	dan secara garis besar diartikan sebagai &#8220;aturan rumah tangga&#8221; 	atau &#8220;manajemen rumah tangga.&#8221; Sementara yang dimaksud 	dengan ahli ekonomi atau ekonom adalah orang menggunakan konsep 	ekonomi dan data dalam bekerja.</p>
<p>Secara umum, subyek dalam ekonomi dapat dibagi dengan beberapa 	cara, yang paling terkenal adalah <em>mikroekonomi</em> vs 	<em>makroekonomi</em>. Selain itu, subyek ekonomi juga bisa dibagi 	menjadi positif (deskriptif) vs normatif, <em>mainstream</em> vs 	<em>heterodox</em>, dan lainnya. Ekonomi juga difungsikan sebagai ilmu 	terapan dalam manajemen keluarga, bisnis, dan pemerintah. Teori 	ekonomi juga dapat digunakan dalam bidang-bidang selain bidang 	moneter, seperti misalnya penelitian perilaku kriminal, penelitian 	ilmiah, kematian, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Politik">politik</a>, 	kesehatan, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan">pendidikan</a>, 	<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga">keluarga</a> dan 	lainnya. Hal ini dimungkinkan karena pada dasarnya ekonomi — 	seperti yang telah disebutkan di atas — adalah ilmu yang 	mempelajari pilihan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia">manusia</a>. 	Banyak teori yang dipelajari dalam ilmu ekonomi diantaranya adalah 	teori <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pasar_bebas">pasar 	bebas</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_lingkaran_ekonomi">teori 	lingkaran ekonomi</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Invisble_hand&amp;action=edit&amp;redlink=1">invisble 	hand</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Informatic_economy&amp;action=edit&amp;redlink=1">informatic 	economy</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Daya_tahan_ekonomi&amp;action=edit&amp;redlink=1">daya 	tahan ekonomi</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Merkantilisme">merkantilisme</a>, 	<a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Briton_woods&amp;action=edit&amp;redlink=1">briton 	woods</a>, dan sebagainya.</p>
<p>Ada sebuah peningkatan trend untuk mengaplikasikan ide dan metode 	ekonomi dalam konteks yang lebih luas. Fokus analisa ekonomi adalah 	&#8220;pembuatan keputusan&#8221; dalam berbagai bidang dimana orang 	dihadapi pada pilihan-pilihan. misalnya bidang <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan">pendidikan</a>, 	<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pernikahan">pernikahan</a>, 	<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesehatan">kesehatan</a>, 	<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum">hukum</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kriminal">kriminal</a>, 	<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perang">perang</a>, dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agama">agama</a>. 	<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gary_Becker">Gary Becker</a> dari <a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=University_of_Chicago&amp;action=edit&amp;redlink=1">University 	of Chicago</a> adalah seorang perintis trend ini. Dalam 	artikel-artikelnya ia menerangkan bahwa ekonomi seharusnya tidak 	ditegaskan melalui pokok persoalannya, tetapi sebaiknya ditegaskan 	sebagai pendekatan untuk menerangkan perilaku manusia. Pendapatnya 	ini terkadang digambarkan sebagai ekonomi imperialis oleh beberapa 	kritikus.</p>
<p>Banyak ahli ekonomi <em>mainstream</em> merasa bahwa kombinasi 	antara teori dengan data yang ada sudah cukup untuk membuat kita 	mengerti fenomena yang ada di dunia. Ilmu ekonomi akan mengalami 	perubahan besar dalam ide, konsep, dan metodenya; walaupun menurut 	pendapat kritikus, kadang-kadang perubahan tersebut malah merusak 	konsep yang benar sehingga tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. 	Hal ini menimbulkan pertanyaan &#8220;apa seharusnya dilakukan para 	ahli ekonomi?&#8221; The traditional Chicago School, with its 	emphasis on economics being an empirical science aimed at explaining 	real-world phenomena, has insisted on the powerfulness of price 	theory as the tool of analysis. On the other hand, some economic 	theorists have formed the view that a consistent economic theory may 	be useful even if at present no real world economy bears out its 	prediction.</p>
<p><a name="toc"></a></div>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="2" width="104">
<col width="100"></col>
<tbody>
<tr>
<td width="100">
<div id="toctitle" dir="ltr">
<h2></h2>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div id="bodyContent" dir="ltr">
<h2><a name="Sejarah_perkembangan_ilmu_ekonomi"></a>[<a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ilmu_ekonomi&amp;action=edit&amp;section=1">sunting</a>] 	Sejarah perkembangan ilmu ekonomi</h2>
<p><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Adam_Smith">Adam Smith</a> sering disebut sebagai yang pertama mengembangkan ilmu ekonomi pada 	<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abad_18">abad 18</a> sebagai 	satu cabang tersendiri dalam ilmu pengetahuan. Melalui karya 	besarnya <a href="http://www.amazon.com/Wealth-Nations-Great-Minds-Smith/dp/0879757051/sr=8-5/qid=1161138241/ref=pd_bbs_5/102-0253554-5528909?ie=UTF8&amp;s=books/"><em>Wealth 	of Nations</em></a>, Smith mencoba mencari tahu sejarah perkembangan 	negara-negara di <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eropa">Eropa</a>. 	Sebagai seorang ekonom, Smith tidak melupakan akar moralitasnya 	terutama yang tertuang dalam <a href="http://www.amazon.com/Theory-Sentiments-Great-Books-Philosophy/dp/1573928003/sr=8-2/qid=1161138241/ref=pd_bbs_2/102-0253554-5528909?ie=UTF8&amp;s=books/"><em>The 	Theory of Moral Sentiments</em></a>. Perkembangan sejarah pemikiran 	ekonomi kemudian berlanjut dengan menghasilkan tokoh-tokoh seperti 	<a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alfred_Marshall&amp;action=edit&amp;redlink=1">Alfred 	Marshall</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/John_Maynard_Keynes">J.M. 	Keynes</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karl_Marx">Karl 	Marx</a>, hingga peraih <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penghargaan_Nobel">hadiah 	Nobel</a> bidang Ekonomi tahun 2006, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Edmund_Phelps">Edmund 	Phelps</a>.</p>
<p>Secara garis besar, perkembangan aliran pemikiran dalam ilmu 	ekonomi diawali oleh apa yang disebut sebagai <em>aliran klasik</em>. 	Aliran yang terutama dipelopori oleh Adam Smith ini menekankan 	adanya <em>invisible hand</em> dalam mengatur pembagian sumber daya, 	dan oleh karenanya peran <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemerintah">pemerintah</a> menjadi sangat dibatasi karena akan mengganggu proses ini. Konsep 	<em>invisble hand</em> ini kemudian direpresentasikan sebagai 	mekanisme pasar melalui harga sebagai instrumen utamanya.</p>
<p>Aliran klasik mengalami kegagalannya setelah terjadi <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Depresi_Besar">Depresi 	Besar</a> tahun <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1930">1930</a>-an 	yang menunjukkan bahwa pasar tidak mampu bereaksi terhadap gejolak 	di pasar saham. Sebagai penanding aliran klasik, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/John_Maynard_Keynes">Keynes</a> mengajukan teori dalam bukunya <a href="http://www.amazon.com/General-Theory-Employment-Interest-Money/dp/1573921394/sr=8-8/qid=1161138241/ref=pd_bbs_8/102-0253554-5528909?ie=UTF8&amp;s=books/"><em>General 	Theory of Employment, Interest, and Money</em></a> yang menyatakan 	bahwa pasar tidak selalu mampu menciptakan keseimbangan, dan karena 	itu intervensi pemerintah harus dilakukan agar distribusi sumber 	daya mencapai sasarannya. Dua aliran ini kemudian saling &#8220;bertarung&#8221; 	dalam dunia ilmu ekonomi dan menghasilkan banyak varian dari 	keduanya seperti: <em>new classical</em>, <a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Neo_klasik&amp;action=edit&amp;redlink=1"><em>neo 	klasik</em></a>, <em>new keynesian</em>, <em>monetarist</em>, dan lain 	sebagainya.</p>
<p>Namun perkembangan dalam pemikiran ini juga berkembang ke arah 	lain, seperti teori pertentangan kelas dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karl_Marx">Karl 	Marx</a> dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Engels">Friedrich 	Engels</a>, serta aliran <a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Institusional&amp;action=edit&amp;redlink=1">institusional</a> yang pertama dikembangkan oleh <a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Thorstein_Veblen&amp;action=edit&amp;redlink=1">Thorstein 	Veblen</a> dkk dan kemudian oleh peraih nobel <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Douglass_C._North">Douglass 	C. North</a>.</p>
<h2><a name="Metodologi"></a>[<a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ilmu_ekonomi&amp;action=edit&amp;section=2">sunting</a>] 	Metodologi</h2>
<p>Sering disebut sebagai <em>The queen of social sciences</em>, ilmu 	ekonomi telah mengembangkan serangkaian metode kuantitatif untuk 	menganalisis fenomena ekonomi. <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jan_Tinbergen">Jan 	Tinbergen</a> pada masa setelah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_II">Perang 	Dunia II</a> merupakan salah satu pelopor utama ilmu <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonometri">ekonometri</a>, 	yang mengkombinasikan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Matematika">matematika</a>, 	<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Statistik">statistik</a>, dan 	teori ekonomi. Kubu lain dari metode kuantitatif dalam ilmu ekonomi 	adalah model <a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=General_equilibrium&amp;action=edit&amp;redlink=1">General 	equilibrium</a> (keseimbangan umum), yang menggunakan konsep aliran 	uang dalam masyarakat, dari satu agen ekonomi ke agen yang lain. Dua 	metode kuantitatif ini kemudian berkembang pesat hingga hampir semua 	makalah ekonomi sekarang menggunakan salah satu dari keduanya dalam 	analisisnya. Di lain pihak, metode kualitatif juga sama 	berkembangnya terutama didorong oleh keterbatasan metode kuantitatif 	dalam menjelaskan perilaku agen yang berubah-ubah</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lia2009.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lia2009.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lia2009.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lia2009.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lia2009.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lia2009.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lia2009.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lia2009.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lia2009.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lia2009.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lia2009.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lia2009.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lia2009.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lia2009.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lia2009.wordpress.com&amp;blog=6755799&amp;post=10&amp;subd=lia2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lia2009.wordpress.com/2009/04/12/10/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b168ba333b7f7c49f59d994a036b710?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lia2009</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://id.wikipedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://lia2009.wordpress.com/2009/04/12/8/</link>
		<comments>http://lia2009.wordpress.com/2009/04/12/8/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2009 03:21:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lia2009</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lia2009.wordpress.com/2009/04/12/8/</guid>
		<description><![CDATA[ELANG PEMILU 2009 RUU PARTAI POLITIK KEMBALI DIBAHAS 30 Sep 2007 Syarat jumlah pendiri partai politik perlu ditingkatkan dari 50 orang menjadi 250 orang, untukmeningkatkan kualitas demokrasi dan legitimasi partai politik sebagai representasi aspirasi politik masyarakat. Hal ini sekaligus sebagai upaya membangun sistem kepartaian yang ideal. Demikian salah satu tanggapan Pemerintah mengenai RUU Partai Politik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lia2009.wordpress.com&amp;blog=6755799&amp;post=8&amp;subd=lia2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 class="page-title">ELANG PEMILU 2009 RUU PARTAI POLITIK KEMBALI DIBAHAS</h1>
<div id="node-136" class="node">
<div class="content wrap">
<div class="node-date">30 Sep 2007</div>
<p>Syarat jumlah pendiri partai politik perlu ditingkatkan dari 50 orang menjadi 250 orang, untuk<span id="more-8"></span>meningkatkan kualitas demokrasi dan legitimasi partai politik sebagai representasi aspirasi politik masyarakat. Hal ini sekaligus sebagai upaya membangun sistem kepartaian yang ideal. Demikian salah satu tanggapan Pemerintah mengenai RUU Partai Politik yang disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri M. Mardiyanto, dan Menteri Hukum dan HAM RI yang diwakili oleh Direktur Harmonisasi Diretorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan DR. Wicipto Setiadi, serta Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa bertindak mewakili Presiden di Ruang Rapat Panitia Khusus DPR RI gedung Nusantara II Jakarta Rabu, 05 September 2007.</p>
<p>Rapat Pansus RUU Partai Politik bertujuan mendapatkan tanggapan pemerintah atas pandangan fraksi sekaligus tanggapan masing-masing fraksi terhadap tanggapan Pemerintah mengenai Rancangan Undang-Undang Partai Politik<br />
Lebih lanjut tanggapan dan pandangan pemerintah terkait RUU Partai Politik sebagai berikut : 1) Mengenai asas dan ciri Partai Politik, pemerintah sependapat dengan usulan Partai Golkar, hal ini telah dirumuskan dalam Pasal 6 RUU Partai Politik, yaitu asas parpol tidak boleh bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.<br />
2). Mengenai verifikasi Partai Politik sebagai Badan Hukum, pemerintah sependapat dengan F-PDIP agar proses verifikasi partai politik, baik untuk mendapatkan status badan hukum maupun keikutsertaannya dalam pemilu harus dijamin untuk terhindar dari peluang intervensi dan subjektivitas birokrasi. Ketentuan tentang proses verifikasi dilakukan oleh birokrasi sesuai dengan persyaratan pembentukan partai politik yang ditentukan dalam RUU Partai Politik.<br />
3). Mengenai pelaksanaan fungsi partai politik, bahwa Partai Politik mempunyai fungsi : Pendidikan politik bagi anggotanya, penciptaan iklim yang kondusif bagi kesatuan dan persatuan bangsa, penyerap, penghimpun dan penyalur aspirasi masyarakat, partisipasi politik warga negara, serta rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan politik.<br />
4). Kehidupan Internal dan Demokrasi dalam Lingkungan Partai Politik, dalam RUU telah dirumuskan bahwa menyangkut kehidupan internal partai politik dan pelaksanaan demokrasi di lingkungan partai politik diatur dalam AD/ART partai politik.<br />
5). Hak, Kewajiban, Larangan dan Sanksi, pemerintah sependapat dengan F-PG tentang perlunya pengaturan yang semakin tegas tentang kewajiban, larangan, dan sanksi bagi partai politik, dalam RUU partai politik telah dirumuskan secara tegas dan rinci mengenai kewajiban, larangan dan sanksi bagi partai politik.<br />
6). Keterwakilan Perempuan dalam Kepengurusan Partai Politik, dalam mengedepankan prinsip kesetaraan gender dalam wujud keterwakilan dan keadilan gender harus tetap mempertimbangkan aspek kualitas dalam rangka penguatan demokrasi substansial, yang realisasinya menjadi tanggungjawab masing-masing partai politik.<br />
7). Keuangan Partai Politik, pemerintah sependapat dengan pandangan F-PPP dan F-BPD tentang pengelolaan keuangan partai politik dilaporkan sesuai dengan standar keuangan yang direkomendasikan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) serta transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan sesuai standar IAI, pemerintah sependapat bahwa diperlukan kenaikan jumlah sumbangan perseorangan agar partai politik lebih bisa mandiri dalam melaksanakan fungsinya, Bahwa keuangan partai politik harus diatur jelas dan detail tentang sumber pendanaan partai, partai, laporan dan pertanggungjawaban penggunaan dana partai, serta pemberian sanksi yang tegas atas pelanggaran perundang-undangan, bahwa diperlukan pembatasan sumbangan, dimaksudkan agar pengelolaan keuangan partai politik dilaksanakan secara tertib dan dapat lebih mandiri serta tidak dikendalikan oleh kepentingan lain, mengenai sumbangan asing, pemerintah berpendapat bahwa hal tersebut tidak saja perlu dibatasi, tetapi harus dilarang karena sumbangan asing berpotensi adanya intervensi terhadap kehidupan politik dan kedaulatan negara Indonesia.<br />
8). Kemandirian Partai Politik, bahwa dalam hal-hal yang dapat diselesaikan secara musyawarah mufakat oleh partai politik yang bersangkutan diselesaikan secara internal sesuai AD/ART. Namun, dalam hal perselisahan tidak dapat diselesaikan melalui mekanisme musyawarah mufakat, maka penyelesainnya melalui lembaga peradilan.</p></div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lia2009.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lia2009.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lia2009.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lia2009.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lia2009.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lia2009.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lia2009.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lia2009.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lia2009.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lia2009.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lia2009.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lia2009.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lia2009.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lia2009.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lia2009.wordpress.com&amp;blog=6755799&amp;post=8&amp;subd=lia2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lia2009.wordpress.com/2009/04/12/8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b168ba333b7f7c49f59d994a036b710?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lia2009</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://lia2009.wordpress.com/2009/04/12/6/</link>
		<comments>http://lia2009.wordpress.com/2009/04/12/6/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2009 03:16:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lia2009</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lia2009.wordpress.com/2009/04/12/6/</guid>
		<description><![CDATA[&#60;!&#8211; @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } H2 { margin-bottom: 0.21cm } H3 { margin-bottom: 0.21cm } A:link { so-language: zxx } &#8211;&#62; PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA MaPendidikan Indonesia Terbaik di Dunia?y 23rd, 2007 &#124; Education Pendidikan terbaik di dunia? Bukan Harvard, bukan Amerika, juga bukan Inggris, apalagi Indonesia — melainkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lia2009.wordpress.com&amp;blog=6755799&amp;post=6&amp;subd=lia2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&lt;!&#8211; 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 		H2 { margin-bottom: 0.21cm } 		H3 { margin-bottom: 0.21cm } 		A:link { so-language: zxx } 	&#8211;&gt;</p>
<h2><a href="http://nofieiman.com/2007/05/pendidikan-indonesia-terbaik-di-dunia/">PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA</a></h2>
<p><span style="font-size:x-small;">Ma<a href="http://nofieiman.com/2007/05/pendidikan-indonesia-terbaik-di-dunia/">Pendidikan Indonesia Terbaik di Dunia?</a>y 23rd, 2007 </span><strong><span style="font-size:x-small;">|</span></strong><span style="font-size:x-small;"> <a href="http://nofieiman.com/category/education/">Education</a> </span></p>
<p>Pendidikan terbaik di dunia? Bukan <a href="http://nofieiman.com/2005/05/harvard-gitu-lohh/">Harvard</a><span id="more-6"></span>, bukan <a href="http://nofieiman.com/2005/04/kuliah-di-amerika/">Amerika</a>, juga bukan Inggris, apalagi <a href="http://nofieiman.com/2005/11/sindrom-inferiority/">Indonesia</a> — melainkan Finlandia, negeri yang paling tidak korup di muka bumi ini. Hebatnya, Finlandia tak cuma jagoan mendidik anak-anak “normal,” tapi juga unggul dalam pendidikan bagi anak-anak yang lemah mental. Pendek kata, Finlandia berhasil membuat seluruh anak didiknya cerdas — tak peduli yang normal atau yang lemah mental.</p>
<p><a name="more-332"></a>Finlandia mengalahkan 40 negara lain di dunia berdasar survei <a href="http://www.pisa.oecd.org/">PISA</a> yang dilakukan oleh <a href="http://www.oecd.org/">OECD</a> tahun 2003. Tes komprehensif dilakukan melalui pengukuran kemampuan <em>mathematics</em>, <em>reading</em>, <em>science</em>, dan <em>problem solving</em> yang nantinya ditujukan untuk peningkatan kualitas sistem pendidikan. Tes ini dilakukan per tiga tahun — tes terakhir dilakukan pada tahun 2006 dan hasilnya baru akan keluar akhir 2007. Mau tahu di mana posisi Indonesia?</p>
<h3>Perolehan Skor</h3>
<p><strong>Mathematics (rata-rata 484,84)</strong></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Hong Kong-China (550,38)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Finlandia (544,29)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Korea Selatan (542,23)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Belanda (537,82)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Liechenstein (535,80)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">…..</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">…..</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Brazil (356,02)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Tunisia (358,73)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Indonesia (360,16)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Mexico (385,22)</p>
</li>
<li>Thailand (416,98)</li>
</ul>
<p><strong>Reading (rata-rata 480,22)</strong></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Finlandia (543,46)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Korea Selatan (534,09)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Kanada (527,91)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Australia (525,43)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Liechtenstein (525,08)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">…..</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">…..</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Tunisia (374,62)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Indonesia (381,59)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Mexico (399,72)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Brazil (402,80)</p>
</li>
<li>Serbia (411,74)</li>
</ul>
<p><strong>Science (rata-rata 487,77)</strong></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Finlandia (548,23)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Jepang (547,64)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Hong Kong-China (539,50)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Korea Selatan (538,43)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Liechtenstein (525,18)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">…..</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">…..</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Tunisia (384,68)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Brazil (389,62)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Indonesia (395,04)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Mexico (404,90)</p>
</li>
<li>Thailand (429,06)</li>
</ul>
<p><strong>Problem Solving (rata-rata 485,20)</strong></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Korea Selatan (550,43)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Hong Kong-China (547,89)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Finlandia (547,61)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Jepang (547,28)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Selandia Baru (532,79)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">…..</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">…..</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Tunisia (344,74)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Indonesia (361,42)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Brazil (370,93)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Meksiko (384,39)</p>
</li>
<li>Turki (407,53)</li>
</ul>
<p><strong>Skor Total (rata-rata 484,51)</strong></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Finlandia (545,90)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Korea Selatan (541,29)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Hong Kong-China (536,83)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Jepang (531,79)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Liechtenstein (528,87)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">…..</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">…..</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Tunisia (365,69)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Indonesia (374,55)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Brazil (379,84)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;">Meksiko (393,56)</p>
</li>
<li>Thailand (422,73)</li>
</ul>
<h3>Resep Sukses Finlandia</h3>
<p>Dari segi anggaran, Finlandia agak sedikit lebih tinggi dari negara lain — walau bukan yang tertinggi. Kegiatan sekolah juga hanya 30 jam per minggu. Tapi guru-guru di Finlandia adalah pilihan dengan kualitas terbaik. Untuk menjadi guru jauh lebih ketat persaingannya ketimbang melamar Fakultas Hukum atau Kedokteran. Guru juga diberi kebebasan dalam kurikulum, <em>text-book</em>, hingga metode pengajaran dan evaluasi.</p>
<p>Sistem pendidikan Finlandia memang unik. Remedial tidak dianggap sebagai kegagalan tapi untuk perbaikan. Orientasi dibuat untuk tujuan-tujuan yang harus dicapai. Penekanan ada di proses, bukan hasil. PR dan ujian tak musti dikerjakan dengan sempurna — yang penting murid menunjukkan adanya usaha. Ujian justru dipandang sebagai penghancur mental siswa.</p>
<p>Sejak awal, murid diajari bertanggung jawab mengevaluasi dirinya sendiri. Mereka didorong untuk bekerja secara independen. Guru tidak mesti selalu mengontrol mereka. Proses pembelajaran berjalan dua arah. Suasana sekolah boleh dibilang jadi lebih cair, fleksibel, dan menyenangkan. Namun efektif.</p>
<p>Guru juga tak pernah mengkritik murid yang justru dinilai membuat murid malu dan menghambat proses pembelajaran itu sendiri. Murid “boleh” berbuat kesalahan, namun guru akan memintanya untuk membandingkan dengan hasil sebelumnya. Memang tak ada sistem ranking di sini sehingga siswa merasa <em>confident</em> dan nyaman terhadap dirinya. Ranking dipandang hanya membuat guru berfokus pada murid-murid terbaik saja, bukan ke seluruh murid.</p>
<p>Finlandia sukses menggabungkan kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Di Finlandia, perbedaan antara murid berprestasi baik dan murid yang kurang sangatlah kecil. Kata seorang guru di Finlandia, “Kalau saya gagal dalam mengajar seorang murid, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya!”</p>
<p>Sedangkan di Indonesia malah ada sejumlah guru dan kepala sekolah yang dengan bangga tidak menaikkelaskan anak didiknya. Gagal mendidik kok bangga.</p>
<h3>Pendidikan di Indonesia</h3>
<p>Menikmati pendidikan belasan tahun di Indonesia membuat saya miris. Penilaian berorientasi hasil, bukan proses. Pembinaan mengabaikan EQ dan SQ. Isinya hafalan, cara cepat membabat soal, dan “ilmu” yang ketika diingat malah makin membuat lupa — tanpa penekanan soal pemikiran kritis dan pembentukan sikap mental positif. Trilogi dasar aspek pendidikan kognitif-psikomotor-afektif (sengaja?) diabaikan.</p>
<p>Di Indonesia, kualitas guru di Indonesia juga masih (maaf) memprihatinkan. Lulusan sekolah menengah yang jempolan biasanya lari ke <a href="http://nofieiman.com/2006/10/top-tier-school-or-not/">tempat yang mentereng</a>: Ilmu Kedokteran, Teknik, Ekonomi, dan sebagainya. Praktis, mereka yang masuk Ilmu Pendidikan adalah “sisa” yang gagal bersaing masuk ke jurusan elit.</p>
<p>Contoh lain adalah UAN yang baru saja lewat beberapa waktu lalu. Sesuai PP 19/2005, UAN adalah indikator kelulusan. Namun banyak yang menilai UAN tak bermanfaat karena hanya mengkondisikan penyelewengan — demi anak didik dan sekolah terangkat citranya. Guru, kepala sekolah, dan bahkan pejabat daerah terlibat jadi tim sukses. <em>Passing grade</em> ditetapkan, tapi sarana, prasarana, dan sumberdaya belum terkondisikan. Begitu hasil jeblok, segala cara agar murid lulus, bukan dengan introspeksi. We want to look good, but didn’t want to be really good.</p>
<p>Sebagian menyayangkan jerih payah tiga tahun hanya ditentukan dalam tiga hari. Banyak murid cerdas diterima SPMB Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, tapi gagal dalam UAN. Murid cerdas justru terbebani mentalnya. Apalagi, andaikata tak lulus, mereka musti mengulang Paket C yang prestisenya kalah jauh. Dorongan belajar pada akhirnya justru sulit dibangkitkan dan hasil maksimal mustahil diperoleh.</p>
<p>Di sisi lain, kualitas pendidikan memang sedemikian rendahnya. Dengan passing grade yang cukup rendah dibanding negara tetangga, masih banyak juga yang tidak lulus. Ketika ada wacana untuk menaikkan standar, protes di sana-sini. Solusinya? Mungkin kembalikan saja ke sistem Ebtanas lama yang dirasa lebih “<em>fair</em>” dan tidak mengundang banyak masalah — sembari menunggu format UAN yang benar-benar pas buat negeri ini.</p>
<p>Atau, sebelum UAN, misalnya sekolah mengadakan seleksi intern sehingga hanya benar-benar murid yang siap yang bisa mengikuti UAN. Atau, UAN dilakukan dengan beberapa passing grade: yang nilainya sekian bisa mendaftar S1, yang sekian hanya bisa mendaftar diploma, yang kurang bisa mengulang tahun depan. Di Singapura, hanya murid tertentu yang <em>qualified</em> yang bisa lanjut S1, sementara sisanya masuk ke program diploma/poltek (atau TAFE kalau di Australia).</p>
<p>Atau, mencontek di negara maju, murid yang lulus UAN mendapat ijasah UAN, sementara yang tidak hanya memperoleh ijasah sekolah atau tanda tamat belajar. Di Inggris misalnya, setelah pendidikan wajib 16 tahun, murid bisa langsung kerja atau ambil A-Level selama dua tahun untuk persiapan kuliah. Di akhir program ada tes nasional dimana murid yang mendapat nilai A pada mata pelajaran utama bisa langsung masuk universitas favorit seperti Oxford, Cambridge, Imperial College, dan sebagainya.</p>
<p>Yang jelas, jika KBK/KTSP diterapkan, kita semua musti konsisten. Evaluasi harus berdasarkan proses. UAN tak perlu dipaksakan sebagai penentu kelulusan. Tapi sejauh mana kesiapan kita (terutama di daerah) untuk menerapkannya? Itu PR kita bersama.</p>
<h3>Conclusion</h3>
<p>Asumsikan 1 persen dari jumlah warga negara adalah jenius, maka “seharusnya” ada 2,2 juta orang berbakat di Indonesia. Masalahnya, bagaimana menemukan mereka, mengasah mereka, memberi mereka kesempatan, supaya mereka bisa mengembangkan potensinya. Indonesia bagus di <a href="http://www.tofi.or.id/">fisika</a> dan matematika. Indonesia juga jagoan badminton. Ada juga Crhisjon yang jago tinju. Ada juga <a href="http://republika.co.id/online_detail.asp?id=292754&amp;kat_id=23">anak pedagang rokok yang meraih juara dunia catur</a>. Ada juga yang bisa <a href="http://www.sciencedaily.com/releases/2007/05/070508102827.htm">menemukan <em>ion motion control</em> di elektrolit</a>. Patut disayangkan mengapa pemerintah masih cuek dan belum piawai dalam mengasah intan mutu manikam.</p>
<p>Hipotesis sementara saya, pendidikan informal (dalam hal ini keluarga) masih jadi unsur terpenting untuk membentuk pribadi yang unggulan selama pemerintah belum mampu membangun sistem pendidikan yang benar-benar mumpuni. Keluarga jugalah yang jadi benteng melawan budaya instan dan pengaruh negatif lingkungan. Dan hipotesis alternatif saya, murid-murid SMP-SMA tak seburuk yang ditulis di media. <a href="http://nofieiman.com/2006/12/sinetron-indonesia-dan-pembodohan/">Pengaruh 18.00-21.00</a> yang jauh lebih kuat daripada masa studi 7.00-13.00 juga jadi salah satu faktor yang mendistorsi kualitas mereka sebenarnya. Wajar kalau di Finlandia, sewaktu istirahat para guru dan muridnya bermain LEGO <em>robotic</em>. Sementara di Indonesia, murid-murid lebih suka ngerokok, pacaran, atau tawuran sewaktu istirahat.</p>
<p><em>Anyway</em>, sekadar cerita di sebuah rumah sakit umum di Los Angeles, ada dua kamar bersalin yang saling bersebelahan. Yang satu adalah kamar VIP sementara kamar di sebelahnya kelas ekonomi dimana pasiennya negro. Hebatnya, semua diperlakukan dengan standar yang sama. Dokter dan suster melayani dengan tulus, menyambut kelahiran dengan bahagia, dan langsung menguruskan dokumen kelahirannya. Pemerintah federal juga memberikan susu dan makanan bayi selama 3 tahun. Kata mereka, “orang tuanya sih boleh miskin dan uneducated, tapi si jabang bayi ini nggak boleh miskin dan nggak boleh uneducated.”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lia2009.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lia2009.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lia2009.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lia2009.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lia2009.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lia2009.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lia2009.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lia2009.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lia2009.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lia2009.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lia2009.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lia2009.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lia2009.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lia2009.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lia2009.wordpress.com&amp;blog=6755799&amp;post=6&amp;subd=lia2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lia2009.wordpress.com/2009/04/12/6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b168ba333b7f7c49f59d994a036b710?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lia2009</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://lia2009.wordpress.com/2009/04/12/5/</link>
		<comments>http://lia2009.wordpress.com/2009/04/12/5/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2009 03:10:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lia2009</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lia2009.wordpress.com/2009/04/12/5/</guid>
		<description><![CDATA[&#60;!&#8211; @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } H1 { margin-bottom: 0.21cm } H1.western { font-family: &#8220;Times New Roman&#8221;, serif } H1.cjk { font-family: &#8220;Lucida Sans Unicode&#8221; } H1.ctl { font-family: &#8220;Tahoma&#8221; } &#8211;&#62; Pendidikan di Indonesia Membicarakan hal yang satu ini mungkin tidak akan habis-habisnya. Ya, dengan keadaan yang ada sekarang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lia2009.wordpress.com&amp;blog=6755799&amp;post=5&amp;subd=lia2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&lt;!&#8211; 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 		H1 { margin-bottom: 0.21cm } 		H1.western { font-family: &#8220;Times New Roman&#8221;, serif } 		H1.cjk { font-family: &#8220;Lucida Sans Unicode&#8221; } 		H1.ctl { font-family: &#8220;Tahoma&#8221; } 	&#8211;&gt;</p>
<h1 class="western">Pendidikan di Indonesia</h1>
<p><a name="more-112"></a>Membicarakan hal yang satu ini mungkin tidak akan habis-habisnya. Ya, dengan keadaan yang ada sekarang ini,<span id="more-5"></span> ditandai dengan demo di sejumlah tempat yang pada dasarnya menuntut pendidikan murah. Tapi saya tidak ingin menulis tentang demo tersebut. Saya hanya ingin menceritakan beberapa keluhan handai taulan (bahkan sampai berdebat kusir hehehe) tentang pendidikan ini.</p>
<p>Salah satu teman saya, agak berang, bilang “Masak sudah sudah ada BOS, kita masih harus bayar Rp. 15.000 per bulan? Di SD lainnya kok enggak bayar lagi.”. Kebetulan memang anaknya berada di SD Negeri 2, dimana ada 3 SDN dalam satu lingkungan sekolah.</p>
<p>Saya coba jadi counter-nya, “Mungkin di SDnya banyak ekstra kurikuler. Sudah cek atau belum? Ada komputer atau enggak?”.</p>
<p>Dia langsung menyanggah, “Ah enggak ada kayak gituan. sama aja!”</p>
<p>Akhirnya lama berdebat, bahkan ditambah satu orang lagi. Cuma jadi kemana-mana buntutnya. Menuduh KepSek korupsi, Guru korupsi, Masya Allah. Setelah lama berdebat, disimpulkan bahwa sebagian dana anggaran orang tua tadi digunakan untuk perbaikan WC, prasarana gedung, tiang bendera, biaya mencat pagar dan lain-lain.</p>
<p>Akhirnya, saya merasa menyadari ada ketidak-adilan disini. Kalau sudah tidak adil, pasti melanggar Pancasila, “Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia”. Kita bisa bandingkan SD Negeri di tengah kota dengan SD Negeri di kampung. Terasa sekali ketimpangan sosial antara kedua SD tersebut. Berita hari ini, ada satu SDN yang roboh.</p>
<p>Menurut ‘mata-adil’ saya, seharusnyalah setiap Sekolah Negeri di negeri ini mempunyai prasarana yang sama, baik dipedalaman Papua sana, atau yang berada di pusat kota Jakarta. Tidak boleh dibedakan. Karena ini Sekolah Negeri (atau Sekolah miliknya negara), maka tidak boleh juga menerima sumbangan dari pihak lain. Mutlak harus dibiayai negara.</p>
<p>Perbedaan Uang Pangkal juga menjadi pertanyaan. Kok, sama sama sekolah negeri uang pangkal berbeda? Tiap sekolah pasti punya jawaban (atau alasan) mengapa mereka menarik uang pangkal sedemikian besar. Uang sejenis inipun harus ditiadakan untuk sekolah Negeri. Alasannya sama dengan di atas, tidak boleh ada perbedaan antar sekolah negeri.</p>
<p>Tentu lain halnya dengan sekolah swasta, yang sah-sah saja menerima sumbangan dari pihak manapun.<br />
Saya tidak tahu keadaan makro dari Anggaran Belanja Negara untuk pendidikan yang konon terlalu kecil. Saya juga tidak mengetahui kondisi dana subsidi Minyak (yang jadi BOS).</p>
<p>“Kaca mata” saya mungkin perlu diperbaiki, untuk menentukan apakah cukup adil kondisi di atas. Apakah benar pendapat saya, bahwa setiap <strong>Sekolah Negeri</strong> harus memiliki prasarana yang sama?</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lia2009.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lia2009.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lia2009.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lia2009.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lia2009.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lia2009.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lia2009.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lia2009.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lia2009.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lia2009.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lia2009.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lia2009.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lia2009.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lia2009.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lia2009.wordpress.com&amp;blog=6755799&amp;post=5&amp;subd=lia2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lia2009.wordpress.com/2009/04/12/5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b168ba333b7f7c49f59d994a036b710?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lia2009</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENDIDIKAN</title>
		<link>http://lia2009.wordpress.com/2009/03/20/pendidikan/</link>
		<comments>http://lia2009.wordpress.com/2009/03/20/pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 09:27:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lia2009</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lia2009.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Pendidikan di Indonesia Membicarakan hal yang satu ini mungkin tidak akan habis-habisnya. Ya, dengan keadaan yang ada sekarang ini, ditandai dengan demo di sejumlah tempat yang pada dasarnya menuntut pendidikan murah. Tapi saya tidak ingin menulis tentang demo tersebut. Saya hanya ingin menceritakan beberapa keluhan handai taulan (bahkan sampai berdebat kusir hehehe) tentang pendidikan ini. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lia2009.wordpress.com&amp;blog=6755799&amp;post=3&amp;subd=lia2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="title">
<h2>Pendidikan di Indonesia</h2>
</div>
<div class="entry">
<p>Membicarakan hal yang satu ini mungkin tidak akan habis-habisnya. Ya, dengan keadaan yang ada sekarang ini, ditandai dengan demo di sejumlah tempat yang pada dasarnya menuntut pendidikan murah. Tapi saya tidak ingin menulis tentang demo tersebut. Saya hanya ingin menceritakan beberapa keluhan handai taulan (bahkan sampai berdebat kusir hehehe) tentang pendidikan ini.</p>
<p>Salah satu teman saya, agak berang, bilang “Masak sudah sudah ada BOS, kita masih harus bayar Rp. 15.000 per bulan? Di SD lainnya kok enggak bayar lagi.”. Kebetulan memang anaknya berada di SD Negeri 2, dimana ada 3 SDN dalam satu lingkungan sekolah.</p>
<p>Saya coba jadi counter-nya, “Mungkin di SDnya banyak ekstra kurikuler. Sudah cek atau belum? Ada komputer atau enggak?”.</p>
<p>Dia langsung menyanggah, “Ah enggak ada kayak gituan. sama aja!”</p>
<p>Akhirnya lama berdebat, bahkan ditambah satu orang lagi. Cuma jadi kemana-mana buntutnya. Menuduh KepSek korupsi, Guru korupsi, Masya Allah. Setelah lama berdebat, disimpulkan bahwa sebagian dana anggaran orang tua tadi digunakan untuk perbaikan WC, prasarana gedung, tiang bendera, biaya mencat pagar dan lain-lain.</p>
<p>Akhirnya, saya merasa menyadari ada ketidak-adilan disini. Kalau sudah tidak adil, pasti melanggar Pancasila, “Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia”. Kita bisa bandingkan SD Negeri di tengah kota dengan SD Negeri di kampung. Terasa sekali ketimpangan sosial antara kedua SD tersebut. Berita hari ini, ada satu SDN yang roboh.</p>
<p>Menurut ‘mata-adil’ saya, seharusnyalah setiap Sekolah Negeri di negeri ini mempunyai prasarana yang sama, baik dipedalaman Papua sana, atau yang berada di pusat kota Jakarta. Tidak boleh dibedakan. Karena ini Sekolah Negeri (atau Sekolah miliknya negara), maka tidak boleh juga menerima sumbangan dari pihak lain. Mutlak harus dibiayai negara.</p>
<p>Perbedaan Uang Pangkal juga menjadi pertanyaan. Kok, sama sama sekolah negeri uang pangkal berbeda? Tiap sekolah pasti punya jawaban (atau alasan) mengapa mereka menarik uang pangkal sedemikian besar. Uang sejenis inipun harus ditiadakan untuk sekolah Negeri. Alasannya sama dengan di atas, tidak boleh ada perbedaan antar sekolah negeri.</p>
<p>Tentu lain halnya dengan sekolah swasta, yang sah-sah saja menerima sumbangan dari pihak manapun.<br />
Saya tidak tahu keadaan makro dari Anggaran Belanja Negara untuk pendidikan yang konon terlalu kecil. Saya juga tidak mengetahui kondisi dana subsidi Minyak (yang jadi BOS).</p>
<p>“Kaca mata” saya mungkin perlu diperbaiki, untuk menentukan apakah cukup adil kondisi di atas. Apakah benar pendapat saya, bahwa setiap <strong>Sekolah Negeri</strong> harus memiliki prasarana yang sama? Saya sendiri masih belum yakin. <img class="wp-smiley" src="http://www.sunaryohadi.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /><br />
Apalagi setelah baca blognya Harry <a href="http://harry.sufehmi.com/archives/2006-04-26-1139/"><span style="color:#003399;">Sekolah Swadaya &#8211; diskusi dengan penyelenggara sekolah gratis</span></a>. Kok saya jadi merasa bahwa Negara tidak mampu memberikan pendidikan kepada warganya, seperti yang tercantum dalam UUD 45.</p>
<p>Selamat Hari Pendidikan Nasional!</p></div>
<div class="postmetadata alt">This entry was posted on Tuesday, May 2nd, 2006 at 6:22 pm and is filed under <a title="View all posts in Celoteh" rel="category tag" href="http://www.sunaryohadi.info/category/celoteh"><span style="color:#003399;">Celoteh</span></a></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lia2009.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lia2009.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lia2009.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lia2009.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lia2009.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lia2009.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lia2009.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lia2009.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lia2009.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lia2009.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lia2009.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lia2009.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lia2009.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lia2009.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lia2009.wordpress.com&amp;blog=6755799&amp;post=3&amp;subd=lia2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lia2009.wordpress.com/2009/03/20/pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b168ba333b7f7c49f59d994a036b710?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lia2009</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.sunaryohadi.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://lia2009.wordpress.com/2009/02/27/hello-world/</link>
		<comments>http://lia2009.wordpress.com/2009/02/27/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 08:55:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lia2009</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lia2009.wordpress.com&amp;blog=6755799&amp;post=1&amp;subd=lia2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lia2009.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lia2009.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lia2009.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lia2009.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lia2009.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lia2009.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lia2009.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lia2009.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lia2009.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lia2009.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lia2009.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lia2009.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lia2009.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lia2009.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lia2009.wordpress.com&amp;blog=6755799&amp;post=1&amp;subd=lia2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lia2009.wordpress.com/2009/02/27/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b168ba333b7f7c49f59d994a036b710?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lia2009</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
